”Spirit Harkitnas dan Zulhijah mengajarkan iman, pengorbanan, serta persatuan demi menjaga tunas bangsa menuju Indonesia bermartabat.”
Bulan Zulhijah bukan sekadar momentum ibadah haji dan kurban, tetapi juga madrasah ruhani yang mengajarkan keteladanan Nabi Ibrahim AS tentang ketaatan mutlak, keikhlasan berkorban, serta pentingnya membangun persaudaraan umat manusia tanpa membedakan status sosial dan kebangsaan. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun Indonesia yang kuat, damai, dan berkeadaban. Pada saat yang sama, bangsa Indonesia bersiap memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun 2026 dengan tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara.”
Tema tersebut menjadi pengingat moral bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya. Kebangkitan bangsa tidak hanya dibangun dengan kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi juga melalui iman, akhlak, persatuan, dan keteladanan moral. Karena itu, tulisan ini bertujuan merefleksikan bahwa spirit kebangkitan nasional harus dibangun melalui penguatan karakter, pendidikan ruhani, kepedulian sosial, dan keteladanan kebangsaan agar Indonesia mampu menghadapi tantangan global dengan tetap menjaga jati diri bangsa.
Sejarah Kebangkitan Nasional
Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei merupakan momentum sejarah yang merujuk pada lahirnya Boedi Oetomo tahun 1908 sebagai tonggak kesadaran nasional bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi “fajar kesadaran” ketika kaum terpelajar mulai membangun persatuan melalui pemikiran dan organisasi modern, melampaui sekat-sekat kedaerahan yang selama ini melemahkan perjuangan bangsa. Dalam perspektif kekinian, semangat Harkitnas tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi harus diterjemahkan sebagai upaya membangun kesadaran kolektif menghadapi tantangan zaman. Zulhijah mengajarkan bahwa kebangkitan sejati lahir dari hati yang bersih, semangat pengorbanan, dan kemampuan menghadirkan persaudaraan sosial demi kemaslahatan bersama.
Zulhijah sebagai Madrasah Ruhani
Dalam kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an dijelaskan bahwa bulan haram merupakan momentum memperkuat iman dan menjaga diri dari keburukan. Karena itu, Zulhijah menjadi ruang pendidikan ruhani agar manusia memperhalus hati melalui puasa sunnah, dzikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan ibadah kurban. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa bahkan menegaskan bahwa sepuluh hari pertama Zulhijah merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh. Dalam konteks kebangsaan, nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Sebab, kebangkitan bangsa memerlukan manusia yang jujur, amanah, peduli terhadap sesama, dan memiliki keteguhan moral dalam menghadapi perubahan zaman global yang semakin kompleks.
Menjaga Tunas Bangsa
Tema Harkitnas 2026 “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Dalam konteks era digital dan transformasi global, tantangan bangsa tidak lagi sebatas menjaga kedaulatan teritorial, tetapi juga menjaga kedaulatan informasi, budaya, dan moralitas bangsa. Karena itu, pendidikan harus mampu menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, penguatan akhlak, literasi digital, dan cinta tanah air. Generasi muda memerlukan keteladanan nyata yang lahir dari pengabdian dan keberanian moral. Kisah Sunahwi yang rela mempertaruhkan keselamatan demi menyelamatkan Panji Siliwangi menunjukkan bahwa perjuangan besar bangsa sering lahir dari ketulusan rakyat sederhana yang menjaga amanah negeri dengan penuh keberanian dan cinta tanah air.
Menuju Peradaban Bermartabat
Kebangkitan nasional pada hakikatnya adalah proses membangun peradaban yang bertumpu pada persatuan, gotong royong, dan kepedulian sosial. Dalam kehidupan modern yang semakin individualistik, manusia sering terjebak pada persaingan sosial, pencitraan digital, dan kepentingan pribadi hingga melupakan nilai kemanusiaan. Zulhijah melalui ibadah haji dan kurban mengajarkan pentingnya persamaan derajat manusia, semangat berbagi, dan pengorbanan demi kepentingan umat. Spirit tersebut sangat penting dalam memperkuat solidaritas sosial dan menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Kebangkitan nasional tidak hanya ditandai dengan kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga dengan lahirnya masyarakat yang damai, berakhlak, toleran, dan mampu menghadirkan manfaat bagi sesama manusia.
Pada akhirnya, Zulhijah dan Hari Kebangkitan Nasional sama-sama menghadirkan pesan penting tentang pengorbanan, persatuan, dan keteladanan hidup. Kebangkitan bangsa tidak cukup dibangun dengan kemajuan material semata, tetapi memerlukan generasi yang kuat secara moral, matang secara spiritual, dan kokoh dalam ukhuwah kebangsaan. Kisah Sunahwi yang menyelamatkan Panji Siliwangi menjadi simbol bahwa kekuatan bangsa sering lahir dari ketulusan rakyat sederhana yang rela menjaga kehormatan negeri dengan penuh keberanian. Karena itu, menjaga tunas bangsa berarti memperkuat iman, merawat sejarah perjuangan, memperhalus akhlak, dan menghadirkan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dengan spirit Zulhijah dan Harkitnas 2026, semoga lahir generasi Indonesia yang berkeadaban, cinta persatuan, serta mampu menghadirkan cahaya peradaban yang damai dan bermartabat. Wallahu A’lam.
Penulis: A. Rusdiana (Guru besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Penulis Buku dan Jurnal Manajemen Pendidikan; Penerima Awarding Jejak Literasi terbanyak I dari Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2025). (UYR/Kemenag)