Dalam beberapa hari terakhir, saya mencermati dua hal menarik yang membuat saya menulis artikel ini. Pertama, potongan video pendek di TikTok yang disampaikan tokoh neurosains sekaligus influencer, Ryu Hasan. Ia bertanya, apakah doa-doa yang kamu panjatkan berjuta-juta kali sepanjang hidupmu itu efektif? Berapa kali Tuhan mengabulkan doa-doamu?
Sekian banyak meminta kepada Tuhan agar diberikan rezeki berlimpah, tetapi hidup tak kunjung kaya, malah kekurangan. Meminta segera diberi jodoh, sampai hari ini masih jomblo juga. Memohon usaha dagangnya laris, malah sepi bahkan bangkrut. Berdoa agar mendapat menantu saleh dan kaya, yang datang justru miskin plus menyebalkan pula. Itulah, kata Ryu Hasan, jujur sajalah, kalau berdoa itu artinya kamu sebenarnya sedang membohongi diri sendiri. Ups!
Kedua, saat mendengarkan khutbah Jumat di masjid dekat rumah, saya mendengar pesan agar jangan mengkhianati doa-doa yang kita panjatkan setiap hari. Kita berdoa kepada Allah meminta kelimpahan rezeki, tetapi malas bekerja. Berdoa meminta kesehatan, tetapi yang dimakan justru sesuatu yang membuat sakit. Berdoa agar dikaruniai anak-anak saleh, tetapi perilaku orang tuanya sendiri tidak menunjukkan keteladanan. Nah, bagaimana doa akan dikabulkan jika pendoanya justru mengkhianati doanya sendiri?
Sekarang mari kita cerna, apakah kedua hal itu bertentangan? Yuk, kita urai pelan-pelan. Persoalan pertama memunculkan pertanyaan apakah berdoa itu penting bagi manusia? Jangan-jangan doa hanyalah kamuflase psikologis, pelarian dari kenyataan. Atau bisa jadi sekedar “jualan” agama-agama agar tetap laku di tengah kompleksitas kehidupan?
Perdebatan soal agama, termasuk doa di dalamnya, sebenarnya sudah lama terjadi. Beberapa puluh tahun lalu, Sigmund Freud pernah menyebut keberagamaan, yang di dalamnya mencakup ritual doa, sebagai problem “neurotik”. Menurutnya, orang yang tidak mampu menghadapi problem hidup lalu mencari pelarian pada agama. Semacam proyeksi psikologis untuk mendapatkan ketenangan dan membuka ruang harap kepada “The Other” di luar diri manusia.
Tentu, kritik Freud terhadap orang beragama tidak sepenuhnya salah. Ia melihat sebagian orang beragama tampak kehilangan keseimbangan logika. Jalan ritual, termasuk doa, dijadikan tumpuan utama dalam menjalani kehidupan, sementara jalan rasionalitas untuk menyelesaikan persoalan hidup tidak menjadi prioritas. Karena itu, wajar jika sebagian filsuf Barat mengkritik perilaku umat beragama.
Dalam konteks ini, Ryu Hasan sebenarnya ingin mengingatkan agar orang beragama menempatkan doa secara proporsional. Pengabulan doa tidak bisa dilihat secara statistik semata. Tuhan lebih mengetahui totalitas sikap dan perilaku hamba-Nya, sehingga tidak semuanya dapat dibaca secara kuantitatif.
Saat kita meminta rezeki dalam doa, misalnya, bisa jadi Tuhan mengabulkannya dalam bentuk tubuh yang sehat, anak-anak yang saleh, atau tetangga yang baik, meski secara ekonomi tidak bertambah. Saat kita berdoa agar usaha berhasil, mungkin Tuhan mengabulkannya dalam bentuk terhindar dari kerugian besar, meski secara kasat mata belum untung. Namun, semua itu sering tidak disadari manusia sehingga seakan-akan doa tidak dikabulkan dan akhirnya membuat manusia enggan bersyukur.
Dalam sejarah perdebatan teologis, kelompok rasionalis seperti Mu’tazilah termasuk yang paling getol mengajak umat Islam menempatkan rasionalitas dalam beragama. Mereka menekankan kebebasan dan tanggung jawab manusia. Dalam pandangan mereka, manusia menentukan tindakannya sendiri sehingga keberhasilan dan kegagalan sangat terkait dengan usaha, bukan semata intervensi supranatural. Doa tetap dianggap ibadah, tetapi tidak boleh dipahami bertentangan dengan keadilan dan hukum Tuhan.
Lalu bagaimana dengan isu kedua terkait pengkhianatan doa? Dilihat dari kacamata spiritual, antara doa dan laku kehidupan seharusnya berjalan seiring dan selaras. Wajar jika saat kita meminta dengan penuh ketundukan kepada Allah, permintaan itu juga didukung oleh sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Hampir seluruh tradisi Islam, Sunni, Syiah, maupun tasawuf, tetap menganggap doa memiliki nilai dan manfaat. Perbedaannya terletak pada titik krusial apakah doa benar-benar mengubah kejadian eksternal, terutama mengubah kondisi batin manusia, atau menjadi bagian dari sebab yang memang sudah ditetapkan Allah dalam takdir.
Dalam tradisi ulama Sunni seperti Al-Ghazali, doa diibaratkan seperti obat. Jika orang bertanya, “Kalau takdir sudah ditentukan, mengapa harus berdoa?”, maka sama saja dengan bertanya, “Kalau takdir sudah ditentukan, mengapa harus makan atau berobat?” Semua itu adalah sebab yang Allah ciptakan. Ibn Taymiyyah juga memandang doa sebagai sebab paling kuat untuk memperoleh kebaikan dan menolak bala. Menurutnya, orang yang meninggalkan doa dengan alasan takdir justru keliru memahami tawakal.
Sedangkan Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab Al-Da’ wa al-Dawa’ menyebut doa sebagai “senjata mukmin”. Ia bahkan menegaskan bahwa doa dapat berperan “melawan” takdir tertentu. Artinya, Allah bisa menetapkan suatu musibah tertolak karena doa yang dipanjatkan.
Sementara dalam pandangan Syiah, Ja’far al-Shadiq mengatakan bahwa doa adalah “senjata orang beriman” dan dapat menolak bala, baik yang belum maupun yang sudah ditetapkan secara mu‘allaq, yakni takdir yang masih bisa berubah dengan sebab tertentu. Pandangan itu berkesesuaian dengan wejangan Ali ibn Abi Talib dalam Nahj al-Balaghah. Ali menekankan bahwa doa adalah jalan komunikasi langsung antara hamba dan Allah serta bentuk pengakuan atas kelemahan manusia.
Demikian pula Muhammad Husayn Tabatabai, ulama tafsir yang cukup dikenal. Dalam Tafsir al-Mizan, ia menjelaskan bahwa doa merupakan bagian dari sunnatullah. Artinya, sebagaimana obat menjadi sebab kesembuhan, doa pun menjadi sebab turunnya rahmat dan perubahan keadaan.
Jadi, doa bagi umat beragama tetap diperlukan sebagai bentuk pengakuan atas kelemahan manusia di hadapan Tuhan. Tetaplah bersikap rasional dalam menghadapi problem kehidupan yang harus diselesaikan melalui upaya-upaya maksimal, sembari terus bermohon kepada Tuhan, Dzat Yang Maha Mutlak. Hanya saja, permintaan dalam doa semestinya disertai dengan banyak laku memuji Tuhan. Bukankah terlalu banyak meminta bisa menjadi cermin ketidaksopanan jika kita justru pelit memuji-Nya? Wallahu a‘lam.
Penulis: Dr.Thobib Al Asyhar, M.Si. (dosen Kajian Islam dan Psikologi Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia, Karo Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama Republik Indonesia). (UYR/Kemenag)