Mendidik Anak: Tafsir Parenting dalam Kisah Nabi Musa dan Khidir

orang tua sering berada di posisi Khidir, mengambil keputusan yang tidak selalu disukai anak? Melarang pergaulan tertentu, membatasi penggunaan gawai, atau menunda keinginan mereka.

Di mata anak, itu mungkin terasa sebagai “ketidakadilan”. Namun, dalam banyak kasus, justru di situlah letak perlindungan jangka panjang. Sebagaimana perahu yang dilubangi, kerugian kecil hari ini bisa menjadi penyelamat dari kerusakan yang lebih besar di masa depan.

Sayyid Qutb dalam tafsirnya, Fi Dhilal al-Qur’an, melihat kisah ini sebagai pelatihan jiwa untuk menerima proses hidup yang tidak selalu linier. Pendidikan, dalam pandangannya, bukanlah proyek instan yang bisa diukur dalam hitungan cepat. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, bahkan ketika hasilnya belum tampak.

Peristiwa paling mengguncang dalam kisah ini tentu adalah ketika Khidir membunuh seorang anak. Dalam tafsirnya, al-Qurthubi menjelaskan bahwa tindakan itu merupakan perintah langsung dari Allah, karena anak tersebut kelak akan menyeret orang tuanya ke dalam kesesatan.

Ini bukan tentang tindakan literal, melainkan tentang pesan mendalam bahwa masa depan anak mengandung kemungkinan yang tidak selalu bisa diprediksi oleh manusia.

Dalam perspektif parenting, ini mengarah pada pentingnya “preventive education”, yaitu pendidikan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga antisipatif. Orang tua tidak bisa menunggu hingga anak “jatuh terlalu jauh” baru bertindak. Pembentukan karakter, nilai, dan lingkungan sejak dini menjadi kunci.

Teori “social learning” dari Albert Bandura memperkuat hal ini. Anak belajar bukan hanya dari instruksi, tetapi dari observasi, melihat, meniru, dan menginternalisasi perilaku di sekitarnya.

Dengan demikian, proteksi terbaik bukan hanya larangan, tetapi juga keteladanan. Apa yang dilakukan orang tua sering kali lebih berpengaruh daripada apa yang mereka katakan.

Pelajaran berikutnya hadir dalam kisah dinding yang diperbaiki Khidir. Di bawahnya tersimpan harta anak yatim, dan sebab perlindungan itu bukan karena usaha mereka, melainkan kesalehan ayahnya. Ibnu Katsir menegaskan bahwa amal saleh orang tua dapat menjadi sebab penjagaan Allah terhadap anak-anaknya.

Di sini, parenting menemukan dimensi spiritualnya. Pendidikan bukan sekadar soal teknik atau metode, tetapi juga tentang kualitas diri orang tua.

Dalam istilah pendidikan modern, ini dapat dikaitkan dengan konsep “hidden curriculum”, nilai-nilai yang tidak diajarkan secara eksplisit, tetapi tertanam melalui sikap, kebiasaan, dan atmosfer keluarga.

Akhirnya, setelah semua kegelisahan dan pertanyaan, Khidir menjelaskan seluruh peristiwa itu. Tidak di awal, tetapi di akhir perjalanan. Al-Qurthubi melihat ini sebagai metode pendidikan di mana tidak semua hal harus dijelaskan saat itu juga. Ada waktu yang tepat ketika pemahaman menjadi mungkin.

Ini sejalan dengan teori “scaffolding” dari Lev Vygotsky, yang menekankan bahwa bantuan atau penjelasan harus diberikan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Terlalu cepat menjelaskan bisa membuat anak tidak siap; terlalu lambat bisa membuat mereka kehilangan arah. Kuncinya adalah kepekaan membaca waktu.

M. Quraish Shihab menegaskan bahwa penjelasan pada saat yang tepat akan melahirkan kepercayaan. Anak yang memahami alasan di balik keputusan orang tua tidak hanya akan patuh, tetapi juga akan tumbuh dengan kesadaran.

Pada akhirnya, kisah Musa dan Khidir mengajarkan bahwa parenting adalah ruang perjumpaan antara ikhtiar manusia dan rahasia takdir Allah. Orang tua berusaha dengan ilmu, pengalaman, dan cinta, tetapi tetap harus menerima bahwa tidak semua hal bisa dipahami atau dikendalikan.

Di tengah derasnya teori dan metode pendidikan modern, kisah ini mengingatkan bahwa inti dari mendidik anak tetaplah sama: kesabaran, keteladanan, visi jangka panjang, dan keikhlasan menerima proses.

Karena pada akhirnya, mendidik anak bukan hanya tentang membentuk masa depan mereka, tetapi juga tentang mendewasakan diri kita sebagai orang tua.

Dan mungkin, seperti Musa yang baru memahami di ujung perjalanan, kita pun akan menyadari bahwa banyak keputusan yang dulu terasa berat, ternyata adalah bentuk kasih sayang yang paling dalam.

Mendidik anak adalah perjalanan sunyi antara apa yang kita pahami hari ini dan apa yang baru akan kita mengerti di masa depan.

Penulis: Ahmad Yani, M.A, Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (UYR/MUI)

Leave a Comment